Novel Bersambung "Hujan di Kala Itu"

karya : Widya Ayu

Pendahuluan

“kau tau bagian mana yang paling indah dari hujan?” kata riski memecahkan keheningan kami. “aku suka hujan, tapi aku tak pernah tahu bagian mana yang indah darinya” kataku yang masih memandang kedepan. “kau benar…hujan tak pernah memberi alasan kenapa Ia begitu indah ketika terjatuh dan terhempas. Ia membasahi seluruh isi bumi tanpa memandang status dari mereka, Ia akan tetap jatuh tanpa memberi spasi dan jarak. Dan Ia akan berhenti ketika Ia menginginkannya. Termasuk malam ini, Ia memecahkan keheningan kita dengan suaranya yang tak berirama namun tetap indah didengar” ujarnya dan menoleh ke arahku sambil tersenyum dengan bahagianya. “Mungkin salah satu cara menikmati hujan adalah dengan orang yang disayang, akan jauh lebih indah” katanya melanjutkan kalimat puitisnya.
Hujan malam ini berbeda, Ia jauh lebih indah dari biasanya~
Kau tahu lagi bagian kedua yang indah dari hujan? Katanya kembali melontarkan pertanyaannya. Aku hanya diam dan menunggu jawabannya. “ketika Ia turun kau akan dibuat rindu olehnya, Dia mengantarkanmu kepada orang-orang yang sedang kau cintai. Jika kau tak memiliki orang yang sedang kau cintai, kau akan diantarkan kepada orang-orang yang pernah menyakitimu. Ia tak pernah berdusta, kau akan dibuat merindu tanpa alasan sepanjang Ia turun membasahi bumi~ ujar Riski dengan mata yang ikut berbicara. “kau benar, hujan akan membuat rindu  tanpa alasan sepanjang Ia turun membasahi bumi, seperti aku merindukanmu tanpa alasan,~” kataku didalam hati.


Bab 1
Hujan dipertemuan kita

Mau kemana kak? Mau hujan deras loh ini…kata ibu mengingatkan aku bahwa cuaca memang sedang tidak bersahabat. Iya bu…mau keluar bentar aja kok, gak enak sama teman. Diundang acara ulang tahunnya hari ini bu, kataku menjawab kegelisahan ibu. Ku tengok cuaca diluar, memang tak ada bintang, awan pun berwarna gelap. Sedikit terlihat kilat dilangit-langit awan. Sekarang aku yang takut sendiri dan mengurungkan niatku untuk tetap pergi ke pesta Lena, teman kuliahku dikelas. “ah tak mungkin aku membatalkan pergi ke pesta Lena, aku sudah bersiap diri seperti ini. Mungkin aku memang harus datang, paling tidak menampakkan wajahku disana. Agar tidak terjadi kesalahpahaman antara aku dan Lena, ntar dikira bukan teman dekat makanya gak datang” kataku berbicara sendiri sembari masih melihat awan yang semakin gelap. Dengan memakai pakaian sederhana jump suit berwarna merah muda dengan bahan rajutan yang ku beli disalah satu Mall dikota ini, dan dengan make up ala kadarnya, aku sudah merasa lebih baik. Aku berkaca sebentar “wahhh……ternyata setelah aku memakai sedikit make up dan teman-temannya aku masih terlihat biasa aja kataku sambil sedikit memonyongkan bibirku. Ah sudahlah, bersyukur..masih bisa melihat isi dunia dengan mudahnya dan dengan indahnya termasuk ngeliat “kamu” pasti indahnya pake banget *eh jadi Baper (Bawa Perasaan). Udah-udah hentikan imajinasi ini sebelum hujan benar-benar akan menghalangiku untuk pergi. Aku kembali bergegas mengambil jaket yang berbahan parasut dan segera memakainya. Ini namanya sedia payung sebelum hujan. Udah siap, “bu aku pergi yah..bentar aja kok”. Kataku berpamitan kepada Ibu yang sedang menonton televisi. “Iya..hati-hati yah kak..jan an pulang larut malam, cuaca lagi gak bersahabat”. Kata ibu yang masih berusaha mengingatkanku. “Siap ibu syantikkkkk..kataku yang berusaha sedikit menggoda ibu”. Dan ibu menoleh kearahku dengan melemparkan senyuman surganyaa. Ibu begitu cantik ketika tersenyum. Yaa…kami hanya tinggal berdua dirumah sederhana ini. Aku tak punya kakak ataupun adik, karena aku memang anak tunggal dikeluarga ini. Ayahku entah kemana, akupun tak tahu. Aku pernah menanyakan perihal Ayah kepada Ibu, namun Ibu hanya menjawab sekedarnya saja seakan-akan Ayah adalah orang asing dikehidupan kami. Nada namaku, tapi Ibu biasa memanggilku kak atau kakak, mungkin dahulu Ia berharap akan ada lagi malaikat kecil yang menjadi adikku, tapi nyatanya aku hanya berdua bersama Ibu. Tetapi sampai saat aku duduk dibangku kuliahpun, ibu masih memanggilku kakak, seakan-akan kami seperti adik dan kakak. Karena Ibu memang terlihat masih muda. Aku kuliah disalah satu Universitas swasta di kota Bangka Belitung. Aku wanita sederhana tanpa ada yang bisa dibanggkan dariku. Aku tak suka sesuatu yang berlebihan dalam hal apapun,, lihat saja rambutku yang sebahu dan sering ku kuncir kuda, dengan selalu mengenakan baju hem dan celana jeans serta sepatu sneakers yang selalu menemaniku, itu berarti menandakan bahwa aku sederhana banget. Karna sederhananya pake banget sampai lawan jenisku pun malas dan ilfeel ngeliat penampilanku yang seperti ini hahaha. Aku menelusuri jalan menuju rumah Lena mengendarai motor bebek ku. Baru setengah jalan, hujan mulai membasahi jemariku. Awalnya tak kupikirkan, aku masih bertekad menarik gas motorku lebih dalam lagi. Tanpa jeda ataupun spasi hujan mengguyurku dengan hebatnya. Aku harus berhenti. Demi menyelamatkan tas, smartphone dan make up mini diwajahku ini. Aku berteduh di ruko pinggir jalan. Aku mencoba mengirim chat dengan smartphone ku. “Len..sorry agak telat yah. Aku lagi berteduh nih, hujan deras banget” ku kirim dengan jemariku yang ikut membasah. Tit tit tit “ iyaa nad…gak apa kok. Lagian disini mati lampu dan hujan juga deras banget. Acara belum dimulai, yang lain juga masih pada belum datang, mungkin karna hujan kali yah. Aku tunggu dirumah yah nad” ku baca pesan dari Lena. “Oh disana hujan juga, mati lampu pula. Kasian banget lena”. Kataku dalam hati. Bukan hanya aku yang ikut berteduh disini, ku lihat disudut kanan tubuhku ternyata ada sepasang kekasih yang juga ikut berteduh sepertiku. Romantis sekali pria ini, dia melapaskan jaketnya untuk dikenakan oleh wanitanya dan membelakangi wanitanya agar tak terkena tempias dari hujan. Aku tersenyum melihat pasangan kekasih ini, entah berapa waktu yang aku lewati, dan berapa lama aku tersenyum, tiba-tiba saja suara lelaki menyadarkanku “maaf, mbak gak kenapa-kenapa ? dari tadi saya melihat mbak senyum-senyum sendiri, saya jadi takut. Mana cuacanya lagi banyak petir. Takut kesambet apa gitu mba”. Aku sontak kaget dan mengubah ekspresiku menjadi malu, “ah bodoh…baper aja sih bawaannya” kataku didalam hati. Ku fokuskan pandanganku ke depan, karna memang cuaca sedang gelap, dan lampu di ruko ini pun ikut memadam, mungkin karena pemilik toko memang mau menutup rukonya.”lah ini kan lelaki itu…mana kekasihnya? Baru saja aku tersenyum akibat ulah mereka yang begitu sweet. Apa wanitanya cemburu ketika aku memandangi mereka dari tadi?” kataku yang mulai menerka-nerka. Aku pun menjawab pertanyaan lelaki ini yang mulai jengkel dengan kelakuanku yang aneh “eh..iyaa gak apa kok mas, maaf banget mas. Pacarnya marah yah gara-gara saya ngeliatin kalian berdua dari tadi. Maaf banget mas..maaf. gak maksud buat mbaknya cemburu. Bilang aja kalo kita memang gak kenal, eh..kan memang kita gak kenal kan mas? Tadi itu saya senang aja mas ngeliat kalian begitu sweet”kataku dengan jawaban panjang lebar, malu dan berusaha meyakinkan lelaki ini. Ku lihat ekpresi lelaki ini dia tersenyum dan kemudian tertawa geli “hahaha…apasih mbak. Kayaknya mbak beneran kesambet deh malam ini. Saya jadi takut mbak” katanya yang masih menertawakanku seakan-akan aku sedang memberi bahan candaan untuk ditertawakan. Aku memonyongkan bibirku dengan ekspresi sedikit kesal “mas kok ketawa ? saya serius loh mas” kataku dengan ekpresi yang masih sama. Ia pun menjawab dan menghentikan tawanya “iya-iya deh…maaf yah mbak. Oh iyaa, kenalin nama aku Rendi Alfa Riski..panggil aja Riski biar lebih akrab” kata lelaki ini dengan senyumannya yang nan indah, gigi yang tersusun rapi serta parfum yang tiba-tiba tersamar tercuim karena terkena hembusan angin hujan. Ku lihat tinggi postur tubuhnya yang tak semampai namun masih terlihat mempesona dengan kemeja biru navy yang dikenakannya. Sangat cocok untuk warna tubuhnya yang tak begitu putih namun terlihat sangat bersih. Aku kebingungan melihat lelaki ini yang sangat begitu cepat meluluhkanku, aku terbawa oleh sikapnya yang asik dan royal kepada orang yang baru Ia kenal. Lebih-lebih aku wanita, dia memperlakukanku layaknya seperti teman yang memang sudah Ia kenal. Tak heran, jika Ia memperlakukan kekasihnya seperti tadi, begitu sweet. Aku pun mengulurkan tanganku yang sedikit basah ini “Sarena Nada..panggil aja Nada biar lebih akrab juga. Maaf tentang tadi, serius gak maksud” kataku yang masih merasa bersalah. Ia pun kembali melemparkan senyumannya “udah..gak apa. Bukan karena kamu kok. Dia pergi tadi karena hujannya gak berhenti-henti. Jadi Dia minta jemput sahabat-sahabatnya deh. Kasian juga naik motor bareng aku, ntar sakit dan basah” katanya dengan nada yang merendah. Aku hanya membalas dengan senyuman, aku tak boleh mengomentari. Karena aku baru kenal dengan Riski. Setelah pembicaraan tadi kami hanya berdiam seraya memandangi jalan yang diguyur hujan. “kau tau bagian mana yang paling indah dari hujan?” kata riski memecahkan keheningan kami. “aku suka hujan, tapi aku tak pernah tahu bagian mana yang indah darinya” kataku yang masih memandang kedepan. “kau benar…hujan tak pernah memberi alasan kenapa Ia begitu indah ketika terjatuh dan terhempas. Ia membasahi seluruh isi bumi tanpa memandang status dari mereka, Ia akan tetap jatuh tanpa memberi spasi dan jarak. Dan Ia akan berhenti ketika Ia menginginkannya. Termasuk malam ini, Ia memecahkan keheningan kita dengan suaranya yang tak berirama namun tetap indah didengar” ujarnya dan menoleh ke arahku sambil tersenyum dengan bahagianya. “Mungkin salah satu cara menikmati hujan dengan orang yang disayang, akan jauh lebih indah” katanya melanjutkan kalimat puitisnya. Aku pun ikut menoleh kearahnya, terhanyut oleh senyuman dan pandangan matanya yang begitu ikhlas ketika mengucapkan kalimat puitis tadi. “Ajak dia menikmati hujan bersamamu” kataku…berkata begitu saja dan membalas senyumannya. Kami kembali memandangi jalan dan menghentikan pandangan satu sama lain. Topik yang kita bicarakan tadi tanpa dipaksa, kami terbawa oleh keadaan, aku seperti sudah lama mengenal Riski. Dia begitu asik dan nyaman diajak sebagai teman ngobrol, pikirku begitu bahagianya wanita yang Ia cintai. Akan melewati masa-masa indah setiap harinya bersama Riski. Tak selang beberapa menit dari pembicaraan kami, hujan berhenti begitu saja. Jalan didepan kami kembali ramai, lampu ruko ini kembali menyala dan membuat wajah kami menjadi jelas terlihat. Aku memandang riski sedikit menengadah karna tinggiku tak terlampau jauh darinya. Dia tampan sekali ternyata, tapi lebih tampan ketika dia berbicara tentang hujan tadi. Riski pun melihatku dan kembali tersenyum “anti badai tuh make up nya, gak luntur haha” katanya berusaha menggodaku kembali. Aku sedikit malu, “apa benar make up ku gak luntur, mau luntur gimana juga..kan aku hanya memakainya tipis-tipis” kataku dalam hati. Lelaki ini berhasil membutrku kikuk didepannya. “hmm” kataku membuang malu yang ada dan mengarahkan pandanganku kearah jalan. “utataaa..ngambek? hahaa. Becanda-becanda. Yuk pulang,”kata Riski yang mencoba meredamkan kekesalanku dengan sedikit candaan manjanya. Ku lihat awan-awan dilangit yang sudah mulai berwarna, dan jalan yang mulai ramai. Ternyata hujan menyelesaikan langkahnya, benar kata Riski, hujan akan berhenti ketika Ia menginginkannya. Ini berarti aku harus segera mengakhiri pembicaraan dengannya. “sudahlah..tak apa. Lagi pula kami hanya mengisi kekosongan malam ini sembari menunggu hujan reda” kataku didalam hati. Ku lihat jam yang menghiasai lenganku sudah menunjukkan pukul 09.30 PM. Tak lama beberapa detik smartphone ku berbunyi, bergegas aku mengeluarkannya dari tas miniku, ternyata panggilan telefon dari Lena. Segera ku angkat dengan sedikit berjalan membelakangi Riski. “hallo Len, iya bentar yah..cuss kesana. Hujan baru aja reda. Maaf yah Len” kataku dengan nada yang memelas. “apaan sih nad..belum juga aku ngomong udah mintaa maaf aja, pesta aku batalin. Kasian teman-teman yang lain nad, jalan banjir menuju kerumahku, ntar mereka mogok dijalan. Malah nyusahin aku lagi minta dijemput dijalan, kan males banget” kata lena sedikit bercanda. “haha..bener juga sih, kok aku gak kepikiran banjir yah..jadi gimana pestamu len?” kataku memastikan kembali. “hmm..besok aja nad, gak apa. Lagian hari ini itu sebenarnya cuma baca-baca doa gitu. Tradisi keluarga, Cuma teman-teman yang aktif dikelas yang diundang, biar Aminnya lebih cepat dikabulkan” kata lena kembali memberi candaan ringan, karena lena memang sekretaris absen kelas. Dia tau pasti aku adalah mahasiswa yang tak pernah absen dikelas karena alasan apapun. “asem..”kataku sedikit meledek lena. “yaudah, thank you yah udah niat datang meski raga nya gak sampai disini. Kadonya nyusul juga gak apa kok haha” kata lena dengan suara yang manis di seberang sana. Tiba-tiba saja smartphoneku mati. Batrainya low ternyata “hem sudahlah, akan ku jelaskan lagi dengan lena perihal hpku yang mati ini, besok jika bertemu dengannya.” Kataku berbicara sendiri. Aku kembali menolehkan tubuhku kebelakang. Aku kebingungan sendiri “mana Riski ? bukankah dia masih dibelakangku tadi? Masa iya dia pergi duluan? Kok gak pamit sih? Eh..emang sudah pamit sih tadi. Salahku ke asikan sendiri berbicara ditelefon dengan Lena. Udah kayak mimpi aja hari ini, bener manusia bukan sih dia tadi, jangan-jangan manusia jadi-jadian. Datang tiba-tiba, pergi tiba-tiba” kataku yang kembali berimajinasi dan menerka-menerka perihal Riski yang tiba-tiba menghilang.
Hujan malam ini berbeda, Ia jauh lebih indah dari biasanya~
Bab 2
Pertemuan kita~
“udah pulang kak? kata Ibu yang sedang membuat seduhan teh didapur. “udah bu..gak jadi ke pestanya. Hujan dijalan dan mati lampu juga” kataku yang menjatuhkan tubuhku di kursi makan. “hmm..kan ibu udah mengingatkan mau hujan kak. Tapi gak basah aja tuh kakak, dan terlihat gak begitu kecewa. Temannya gak marah yah, kakak gak jadi ke pesta dia” kata ibu yang kini duduk didepanku. “masa bu ? bukannya wajahku memang begini, terlihat gak kecewa walaupun dikecewakan hahaha” kataku mencoba membuka candaan untuk ibu. “Bapernya kak, ganti baju sana..mandi, biar enak tidurnya” kata Ibu dengan penuh perhatian. “hahaha,,Bapeeeeeeeeeeerrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr. Kok kekinian sekali ibuku iniiiiiii” kataku yang beranjak dari kursi makan dan mancium pipi ibu. Aku pun pergi meninggalkan Ibu di dapur.
            Ku pandangi langit-langit atap rumahku. Tubuhku kini ku biarkan diatas kasur, aku masih mengingat kejadian disela hujan beberapa waktu lalu. “masih terasa mimpi” kataku memecahkan kebingungan sendirian. “dia itu benar manusia bukan sih? Apa jangan-jangan dugaan ku benar. Dia lelaki jadi-jadian. Jika dia dari kayangan, bukankah bidadari itu hanya ada wanita, tak ada laki-laki ? setau ku sih ahh, habis dia menghilang begitu saja. Ah sudahlah, siapapun dia, kini aku mengerti kenapa hujan itu begitu indah terlebih malam ini” kataku kembali berbicara sendirian. Imajinasiku kini bermain kembali, ku ingat wajah, postur tubuhnya, senyuman, dan sekilas parfumnya. Aku terhanyut dalam imajinasiku dan …..…

            “ ku kayuh sepedaku dengan penuh semangat, “ahh akhirnya aku bisa menikmati pagi yang indah ini setelah melewati ujian dan banyaknya tugas, mahasiswa itu udah kayak bahan candaan dosen. Diberi tugas sesuka hatinya, terkadang nilaipun tak sesuai dengan proses yang kita paksa jalani” kataku berbicara sendiri. Hari ini aku berolahraga di sekitar taman jantung kota ini, tak banyak orang-orang yang melakukan hal yang sama denganku. Mungkin mereka sama sepertiku, berpikiran cara beristirahat adalah dengan tidur bukan dengan olahraga yang akan berefekan capek saja. Ku hentikan sepeda berwaranakan merah muda ini  didepan bangku taman tempatku beristirahat sejenak. Ku pandangi taman kota ini dengan penuh seksama, seperti halnya taman yang sering terlihat, taman ini pun dihiasi bunga-bunga yang berwarna-warni. Ternyata benar perkataanku tadi, olahraga membuat tubuh menjadi lemah seperti tak berdaya, mungkin karena aku tak melakukan pemanasan dan tak sering melakukannya efeknya adalah seperti ini. “hallo…mbak gak kenapa-kenapa? Atau mbak pingsan, atau mbak pura-pura gak menyadarkan diri” tersamar suara lelaki dewasa disampingku. Aku masih tak meyadarkan diri, ku buka mataku sedikit-demi sedikit. aku melihat disekitarku, aku masih berada ditaman dengan posisi masih duduk dibangku taman berwarna putih dan masih terlihat sangat terawat, sepedaku pun masih pada posisi yang sama. Hanya saja perasaaanku mengatakan ada yang berbeda . “hay..halloooo apa sudah sadar, atau amnesia? Terbentur sesuatu, atau habis dihipnotis mbak? Kata lelaki itu kembali bersuara. Ku tengok sebelah kananku, ada seorang lelaki duduk disampingku entah dari kapan. Aku baru menyadari dia lah yang membangunkanku sedari tadi. Membangunkan ? aku masih menerka-nerka lelaki itu kembali berucap “hay…wah bener, habis dihipnotis yah mbak? Kasian bener, coba di liat barangnya apa aja yang hilang” sambil melambaikan tangannya didepan mataku. “mas kenapa yah?” kataku menjawab begitu saja dengan ekpresi yang datar. “loh..kok aku mba, mbak yang kenapa? Saya udah niat baik loh bangunin mba dari orang jahat” kata lelaki itu dengan sedikit kesal. “saya gak kenapa-kenapa mas, Cuma ketiduran karena kelelahan lari tadi” kataku dengan seriusnya. “hahahaha…aku pikir mbak kena hipnotis atau apa gitu” ucap lelaki itu dengan tertawa lepas. Ku lihat tawanya, seperti tak asing. Seperti aku pernah bertemu dengannya, entah dimana. “mbak kayaknya hobi melamun yah” ditanya diam, diketawain diam juga” kata lelaki itu kembali berbicara, karena melihat ekpresiku datar. “eh iyaa..maaf yah, makasih udah dibangunin. Cuman ketiduran kok. Kalo gak dibangunin mungkin bakalan sampai siang tidur disini” kataku sambil tersenyum dan masih menatap wajahnya. “iya santai aja” katanya dengan tersenyum memperlihatkan giginya yang rapi dan matanya dengan penuh ke ikhlasan. Deg-deg-deg, jantungku tiba-tiba berdetak lebih cepat ketika melihat senyumnya. Benar, aku pernah mengenalnya. Belum sempat aku menuntaskan imajinasiku kini lagi-lagi terputus begitu saja karena angina berhembusan begitu kencang. Ku cium sekilas aroma parfum yang menyengat dihidungku akibat hembusan angin, dan aku mulai mengingatnya. Hujan begitu saja turun diantara kami, membuat semua yang aku simpulkan harus aku simpan terlebih dahulu. “mau tetap disini? Yuk berteduh” kata lelaki itu dengan langsung menaiki sepedaku dan meminta aku untuk bersedia dibonceng olehnya. Aku berlalu begitu saja tanpa menjawab iya, ku ikuti perkataan lelaki ini. Tak jauh kami berteduh, kami masih disekitar taman ini. Hanya saja kami berlindung di halte pinggir jalan dari taman ini. Hujan berhasil membasahi celana training dan baju kaosku. Rambutku yang dikuncir kuda ini pun ikut membasah tak merata. Aku sedikit kedinginan, ku lingkarkan kedua tanganku menyilang demi mendapatkan kehangatan tubuh. Bukan hujannya yang membuat aku kehabisan kehangatan tubuhku, tapi kerena hembusan angin yang begitu hebatnya. Ku lihat di sekitarku, tak ada yang berteduh selain kami, mungkin karena ini masih pagi, dan hari libur. Orang-orang sudah memperkirakan untuk sebisa mungkin tidak keluar rumah dan mungkin karena cuaca akhir-akhir ini memang sedang tidak bersahabat. Jaket sport kini telah melingkar dibahuku, ku tengok pandanganku ke kanan, ia tersenyum. “kau kedinginan, pakai saja. Aku lebih ahli menghangatkan suhu tubuhku” kata lelaki ini. Ku pandangi Ia dalam-dalam, matanya, bibirnya, aroma tubuhnya. Tak salah dugaanku, aku mengenalnya. Sudah 3 bulan lamanya, kini aku bertemu lagi dengannya. “riski” ujarku tanpa bisa ku tahan mengatakannya. “ya” kataya menjawab celotehanku tadi, “kau masih mengingatku” katanya melanjutkan dan lagi-lagi dengan senyuman khasnya. “apakah aku tak salah orang?” kataku mencoba meyakinkan diriku kembali. Tak ada jawaban darinya, kami kembali terdiam beberapa saat, memandangi hujan yang begitu derasnya. Aku pun berhasil dibuat kebingungan olehnya. “hujan tak pernah memberi alasan kenapa Ia begitu indah ketika terjatuh dan terhempas. Ia membasahi seluruh isi bumi tanpa memandang status dari mereka, Ia akan tetap jatuh tanpa memberi spasi dan jarak. Dan Ia akan berhenti ketika Ia menginginkannya. Termasuk hari ini, Ia memecahkan keheningan kita dengan suaranya yang tak berirama namun tetap indah didengar” katanya dengan kalimat yang tak asing ku dengar. Aku pun menghentikan pandanganku kedepan dan mengarah kepadanya, aku tersenyum. Dan dia berhasil membuatku yakin bahwa dia memang Riski, lelaki itu. “kau benar, aku menjadi tau semenjak malam itu kenapa hujan begitu indahnya, karena hujan tak pernah memberi alasan kenapa dia begitu indah, itulah alasan terbesar hujan begitu indahnya. Ia turun begitu saja, tanpa berirama namun tetap indah didengar” kataku dengan masih memandang Riski dengan penuh senyuman. Kau tahu lagi bagian kedua yang indah dari hujan? Katanya kembali melontarkan pertanyaannya. Aku hanya diam dan menunggu jawabannya. “ketika Ia turun kau akan dibuat rindu olehnya, Dia mengantarkanmu kepada orang-orang yang sedang kau cintai. Jika kau tak memiliki orang yang sedang kau cintai, kau akan diantarkan kepada orang-orang yang pernah menyakitimu. Ia tak pernah berdusta, kau akan dibuatnya merindu tanpa alasan sepanjang Ia turun membasahi bumi~ ujar Riski dengan mata yang ikut berbicara. “kau benar, hujan akan membuat rindu  tanpa alasan sepanjang Ia turun membasahi bumi, seperti aku merindukan kau tanpa alasan,~” kataku didalam hati. Ku pandangi Riski sepanjang Ia berbicara. Memang dia begitu menawan ketika sedang membicarakan hujan. “kenapa diam?” kata Riski membuka pembicaraan karena melihat sikapku yang diam dan hanya memandangi dirinya. “tak apa” kataku dengan sedikit malu karena tertangkap basah memandangi dirinya. Riski tak menghiraukan sikapku yang begitu membuatnya ilfeel ini. “kau tau hal yang indah kembali dari hujan?” kata Riski melontarkan kembali pertanyaan berikutnya. Entah berapa pertanyaan yang akan Ia tanyakan kepadaku seputar hujan, dan aku kembali tak bersuara. Aku menyukai hujan, tapi Riski lebih tahu tentang hujan ketimbang aku, dan aku tentu akan membebaskan dirinya untuk terus memberi alasan kenapa hujan begitu indahnya terlihat. Dia tersenyum dengan sedikit menaikan alisnya dan berkata “kita dipertemukan kembali walau waktu yang berspasi dan berjarak”. Riski kali ini benar-benar membuatku kikuk begitu saja, ingin rasanya aku menari ala india didepan sana dengan ditemani hujan yang begitu Ia cintai. aku berusaha untuk tetap tenang dan memaksimalkan ekspresiku yang tak boleh terlihat begitu menggembirakan. Setelah beberapa menit aku mencoba bersuara dengan menarik nafas terlebih dahulu. “kau bercanda…” kataku dengan nada yang agak ketus. Ingin rasanya aku berbicara panjang lebar perihal Ia pergi begitu saja meninggalkanku, dan berhasil membuatku mengira Ia adalah manusia jadi-jadian. Tapi aku pendam, aku tak boleh menghakiminya. Tak ada hak aku untuk marah kepadanya, karena kami bertemu kala itu hanya untuk saling mengisi keheningan hujan pada malam pertama kali aku bertemu dengannya. Ia hanya terdiam, mungkin celotehanku tadi bukanlah permasalahan baginya. Atau mungkin Ia tak mendengar karena hujan kali ini seperti sedang marah mengikuti perasaanku yang sedang tidak karuan. “hay…” kataku dengan memberanikan diri memegang pundaknya. Ia terlihat kaget. “sory..kau melamun?” kataku membuka pembicaraan. “kau sedang merindu seseorang?” kataku bertanya kembali. Riski hanya membalasnya dengan sebuah senyuman. “kau terlihat lebih cantik ketika wajahmu terkena tetesan air hujan” katanya dengan sedikit ingin menyentuh wajahku. Aku terdiam, aku tak tau maksud dari perkataannya, apakah Riski mempunya rasa denganku? Atau Ia hanya ingin memecahkan keheningan saat ini? Aku tak pernah bisa menebaknya “jelas lebih cantik hari ini, dari pada malam itu. Make up nya luntur hahaha” katanya melanjutkan perkataannya yang tadi. “sialan banget sih Ris. Aku kira serius ngatain aku cantiknyaa” kataku dengan memonyongkan bibirku. “utataaaaa..ngambekan ahhh,hahaha.. semua cewek bakalan cantik selagi hatinya juga bersih. Jangan ngambekan, gak baik” katanya dengan sedikit menasehatiku. Lagi-lagi Ia selalu bisa membuatku tersenyum hanya karna kata yang dibuatnya. Kau sangat mencintai hujan? Kataku dengan suara yang tak begitu lantang namun aku yakin Riski mendengarnya. “Aku hanya melawan takut dengan terus mencari tau tentangnya” belum saja aku bertanya  apa maksud dari perkataannya, Ia kembali berkata “kini..sedikit demi sedikit aku mengetahui tentangnya, Ia mempunyai sisi yang indah dibalik semuanya” dengan masih menatap arah jalan, halte taman ini. Ku pandangi Riski dengan seksama, raut wajahnya berubah begitu saja. Ia tampak tak baik-baik saja, ada hal yang Ia simpan. Seperti seseorang yang sedang kehilangan. “kau baik-baik saja?” sesungguhnya bukan hanya hal itu yang aku ingin tanyakan, “berceritalah denganku” ahh aku tak mungkin mengatakan hal itu, Riski akan mengira aku wanita yang ingin mau tau urusan orang lain, terlebih orang yang baru dikenal. Ku tahan pertanyaan-pertanyaan penasaranku didalam hati dan benakku. Jika Ia mempercayaiku, tak diminta pun Ia pasti akan bercerita dengan sendirinya. “im fine” jawabnya sambil tersenyum tak selebar biasanya. Hanya itu yang Ia ucapkan, untung saja aku tak menanyakan hal yang lebih, jika aku bertanya mengikuti naluri dalam diriku, mungkin saja aku akan malu dan bersumpah tak akan mau bertemu dengannya lagi. Aku tak bisa menerka Riski, Ia sosok lelaki yang susah ditebak, mungkin Ia bisa menemui seribu wanita sepertiku, tapi tidak denganku, aku akan mendapatkan kesulitan menemui lelaki seperti Riski. Dia sangat ramah, care, humoris, dan masih banyak lagi yang tak ku tau tentangnya. Jika benar Ia kehilangan, wanita mana yang rela meninggalkan atau menyelingkuhinya. “dasar wanita bodoh” ujarku berkata agak lantang dan berhasil membuat Riski menatapku kebingungan. Ku tutup mulutku dengan kedua tanganku secara spontan, dengan mata yang terbelalak karena merasa sangat bodoh berkata begitu saja tanpa ada lawan bicara. Mungkin kini Riski takut mendekatiku. Bukan lagi dia ilfeel tetapi pasti dia sudah mengira aku ini wanita gila yang suka melamun dan berbicara sendiri. “hahaha….kau selalu bisa membuatku tertawa akibat ulahmu yang tak jelas” katanya sambil memegang perutnya Manahan tawa. Ku pandangi Ia dalam-dalam, kenapa laki-laki ini tertawa? Apa jangan-jangan Ia yang gila? Tak ada sedikitpun aku membuat lelucon hanya untuk mendapatkan tawanya, dia selalu tertawa dengan sikap-sikap bodohku. Ia berhenti tertawa, dan mengusap anak-anak rambut dikeningku yang sudah mulai mengering,. Ku rasakan dalam-dalam, jemarinya sangat lembut, tak seperti lelaki lain yang sedikit kasar, sentuhannya membuatku ingin terus diusap olehnya. Entahlah, aku tak pernah tau apa maksud dari semua ini. Aku begitu menikmati semua yang Ia lakukan untukku. “sudah, jangan terlihat kosong seperti itu…kau lucu, berbicara begitu saja disaat aku tak berbicara sedikitpun, aku tak mengejekmu” katanya melepaskan usapan tangannya dirambutku dengan tersenyum selebar mungkin. “tak apa” kataku mencoba membuang muka, menunjukkan sikap seakan-akan aku sedang marah kepadanya. “kan aku sudah bilang, ngambek itu gak baik syg” ujar Riski berkata begitu saja tanpa menyaring terlebih dahulu apa yang ingin Ia ucapkan. Aku pun sontak berpaling ke arahnya, bukan hanya kepala, kini tubuhku pun ikut memutarkan diri ke arahnya. Ia hanya mengangkat bahu dan sambil cengengesan tak jelas. Ku anggap itu hanyalah sebuah lelucon untuk membujukku agar tidak marah kepadanya. Tanpa disadari, hujan telah berhenti, hanya ada anak hujan yang ikut turun diantara kami. Ku lihat jam yang melingkar dipergelangan tanganku, aku sengaja memakai jam ini, jika sedang berolahraga seperti ini aku harus tau waktu, dan jam ini di desain khusus anti air. Tak heran jika aku tak takut bila terkena air hujan maupun keringat dipergelangan tanganku, jam ini akan terus bisa berfungsi selagi batrainya rutin untuk diganti. “Nad…” ujar Riski memanggil namaku dengan nada ragu. “ya….”? Kataku yang sudah dalam posisi menghadap kearah jalan, ku palingkan wajahku kearahnya dengan pelan, ku lihat wajahnya yang kini juga berposisi sepertiku. Mataku dan matanya kini bertemu, matanya masih begitu indah. Aku baru menyadari, bukan saja senyumannya yang indah, tetapi Riski mempunyai mata yang begitu tajam seperti mata elang, dengan bulu mata yang lentik dan panjang. Ditambah alis yang sangat hitam, begitu pas diwajahnya, dan aku yakin, wanita-wanita jika melihatnya akan terhanyut oleh senyumannya khas. “kau mempunyai handhphone?” Riski lagi-lagi memutuskan imajinasiku tentang dirinya. Tanpa banyak bertanya, aku langsung menyodorkan handphoneku dari saku celana training yang ku kenakan saat ini. Kebetulan sekali aku membawa ponsel disaat jogging seperti ini, pikirku..aku akan menggunakannya ketika aku sedang berkeliling ditaman ini dengan menyetel lagu-lagu favorite yg ada diponselku. Aku sudah bisa menebak, Riski pasti ingin menghubungi kekasihnya karena terjebak hujan denganku disini, Ia akan telat menjemput kekasihnya, dan meminta maaf karena tak ada menghubunginya sedari dari tadi dengan bersamaan ponselnya lowbat atau ketinggalan. Hmm..lelaki seperti Riski ini terlihat sangat mencintai  dan menyayangi kekasihnya, terlebih ketika malam itu. Ia pun memencet satu persatu nomor ponsel yang akan Ia telfon. Belum selesai Ia mengetik nomor telefonnya, aku langsung mengingatkan dia bahwa aku tak punya banyak pulsa jika Ia harus menelfon lama. Aku akan membelikan pulsa terlebih dahulu jika Ia mau, kebetulan teman-teman kampusku mempunyai usaha sampingan salian kuliah yaitu menjual pulsa. “gak nad…aku gak mau nelfon kok, lagian siapa yang mau ditelfon?” ujarnya dengan nada yang agak sinis. Kenapa Riski berkata seperti itu, mungkin Ia lagi marahan dengan kekasihnya, wajar saja dalam suatu hubungan akan ada petengkaran, itu adalah bumbu dalam menjalin sebuah hubungan. “jangan seakan-akan tak mau tau seperti itu…ntar dia khawatir” kataku berkata begitu saja. “Dia udah tenang nad” ujar Riski dengan suara yang agak surau. Baru saja aku ingin menanyakan apa maksudnya, Riski sudah menyodorkan kembali ponsel didepanku. Ku lihat ponselku dengan seksama “ki…????” kataku kebingungan. “ya.. ku save nomor ponselku agar kau bisa menghubungiku jika kau mau”. Dengan senyumannya yang masih khas. Ku naikkan alis sebelah kiriku ke atas, menunjukkan bahwa aku sedang bingung dengan maksudnya menyimpan nomor ponsel di ponselku. Aku pikir Ia akan menghubungi kekasihnya, ternyata dugaanku salah. Kenapa bukan dia saja yang menyimpan nomor ponselku, kenapa aku yang harus menyimpannya? Tak sadarkah dia, bahwa aku adalah wanita. Tak mungkin aku akan menghubunginya duluan. Apa aku bukanla wanita yang menarik dimatanya? Sehingga harus aku lah yang menghubunginya seakan-akan aku yang mengejar-ngejarnya. Jika seperti alasannya seperti itu, aku bersumpah tak akan menghubunginya dan akan langsung menghapus nomor ponselnya di kontak ponselku. Tak sadar bahwa aku telah bertanya didalam hati sedari tadi, ingin aku asanya bertanya langsung pada Riski tapi tak ,mungkin, aku tak akan bertanya sebanyak itu padanya. Bagi Riski aku masih lah orang asing dihidupnya. “baiklah…” kataku singkat. Jauh dari pertanyaan-pertanyaan yang ingin aku lontarkan padanya. Ku lihat awan yang sudah mulai berwarna, anak-anak hujan pun sudah tak lagi menjatuhkan dirinya. Beberapa waktu bersama Riski terkadang membuatku lupa untuk mengakhirinya. Hingga aku pun tak mau rasanya memulai untuk mengingatkannya bahwa hujan telah berhenti, meski ku tau Riski menyadarinya..dan tanpa diingatkanpun dia sudah tau. “gak terasa yah nad,,ngobrol sama kamu asyik juga. Sampai-sampai hujan berhenti dengan sendirinya.” Riski mencoba memulai percakapan perpisahan kami pada hari ini. “hmm iya yah, memang aku asyik orangnya” sambil memberikan senyuman terindahku dengan terlihat gigi gingsulku disebelah kiri. Mantanku pernah berkata, bahwa jika aku tersenyum dengan tulus, maka aku akan terlihat manis. Dan seseorang akan selalu merindu dengan senyumanku. Itu sih katanya dia, sewaktu kami masih pacaran memasuki dua minggu. Masih dimabuk asmara dan memuji satu sama lain. Nyatanya, jika senyuman tulusku membuat seseorang merindu, kenapa Ia tak ada menghubungiku semenjak kami berpisah? Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhhhh!!!!!!!!!!!!!!!!!!!! Lagi-lagi aku berimajinasi liar. Tak apalah, lagian aku memang manis, sangat cocok dengan Riski yang begitu rupawan, kita akan menjadi sepasang romeo and Juliet. “hahaha” aku terkikik sendiri ketika membayangkan aku dan riski akan menjadi romi dan juli jika di drama kan di negeri kami. “nad-nad, suka bicara dan tertawa sendiri” kata Riski dengan mengelengkan kepala dan tersenyum mengejek. Sepertinya riski sudah mengetahui hobiku yang suka melamun dan tertawa sendiri, dan seakan-akan dia memakluminya. “eh nih jaketnya, pulang gih. Thank you banget yah, luamayan ngelindungi dari agin ujan tadi” sambil kedua tanganku berusaha mengambil jaketnya dipunggungku. “cuci dulu nad. Gak sopan banget sih, abis kena keringat langsung dikembalikan” sambil berjalan meninggalkan aku. Belum saja aku sempat membalas perkataannya, Riski sudah berlari meninggalkan aku tanpa sedikitpun berpaling kearahku. Riski ini bener-bener lelaki yang aneh, dan susah ditebak. Ia hobi pergi semaunya, udah kayak hujan. Ya..Hujan…

Bersambung...~
Bab 3
Kau tau arti MENUNGGU..?


Komentar

  1. Nah, siapa nih yang sudah baca novel bersambung hujan dikala itu?

    Mau dilanjutkan ga nih? Kalau mau, komen sekarang yaa!!
    Kira-kira, Riski bakalan bertemu lagi dengan Nada ga yaa??

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menemukan

Puisi "Titik"

Senja dan Cerita~