Postingan

Menemukan

 saya berkenalan dengan seorang laki-laki yang berbeda kota dengan saya. Saya pikir ini hanyalah kebetulan saja, tidak akan berlanjut ke arah yg lebih jauh lagi.  Perkenalan singkat tanpa perantara orang lain kami lakukan melalui sosial media. Berawal dari pesan singkat dari seorang lelaki yang masih berstatus mahasiswa pada saat itu membuat saya bahkan tidak tertarik untuk membalasnya. Namun, sosial media tetaplah sosial media "keisengan" melanda disaat waktu senggang ada untuk membalas.  Seiring berjalannya waktu, ajakan pertemuan yg diinginkannya tidak saya lakukan. Ya, saya pikir buat apa ada pertemuan, toh kita hanya sama-sama tidak serius membalas pesan demi pesan. Saya masih tidak percaya dengan sikap manis laki-laki di awal perkenalan.  Pada akhirnya kami bertemu tanpa direncanakan. Saya yg sedang berada di sebuah taman pada saat itu, duduk sendirian memikirkan hal-hal yg tertimpa kepada saya hari demi hari sambil menatap taman dengan air mancur kudanya tiba-...

Puisi "Titik"

Titik Tiba saatnya hari ini Ketika doa-doa terbang melayang tinggi Tersisa sebuah harapan yang bersembunyi Tersenyum sudut bibir ini, ditengah tangisan hari ini.. Hallo... Sapa ku pada sebuah mimpi.. Desir angin terus menyelimuti... Ditengah terik matahari Ku kira kau rumahku hari ini.. Ternyata kau hanyalah sebuah ilusi Ketika aku bertemu burung merpati Pastilah akan aku sampaikan rinduku ini, Mari bersua sayang.. Merayakan jarak kita selama ini.. 12 okt 2021, 16:04.

TAKDIR HARI INI

  TAKDIR HARI INI   Memilikimu tak terlintas dalam benakku Menyayangimu adalah milik hatiku Serta mencintaimu adalah takdir Tuhan untukku Namun, Jika kau masih tak merasa, Apakah aku harus menyerah?   Jika aku boleh meminta, Bisakah kau memberikan takdirmu untukku? Seperti halnya takdirku yang aku serahkan untukmu.. Jika aku boleh memilih, Bisakah aku mendapatkan semua doa sujudmu untukku? Seperti halnya lirih air mataku menyebut namamu..   Jika semua hal yang aku lakukan tak membuatmu merasa cukup, Bagaimana takdir turut meng-amin-kan. Jika hanya aku sendiri  yang membawa  tiang, Bagaimana akan seimbang? Jika hanya aku saja yang membangun, Bagaimana kita akan terikat?       Hari ini adalah titik, Titik terendah dalam inginku, Titik terendah dalam AMIN-ku, Titik terendah dalam lirih air mataku, Ku hentikan takdir indahku bersamamu Memilikimu tak terlintas dalam benakku Menyayangimu adalah milik hatiku Serta mencintaimu adalah takdir Tuhan unt...

Semesta Meminta Takdir

Semesta Meminta Takdir   Hai, Baimana kabarmu? Sebuah pertanyaan klasik yang masih membutuhkan jawaban.. Kabarku tentu baik-baik saja, Setelah perpisahan kala itu…   Jangan tanya tentangku, Seribu rencana telah aku tuliskan ditakdirku, Jika Tuhan mengizinkan… Jangan tanya pula tentang luka dahulu, Kini membekas entah ia akan tetap basah, Atau akan mengering dengan berjalannya waktu…   Aku menyesal, Jika waktu bisa diputar seribu tahun lagi, Aku akan tetap memilihmu sebagai seseorang yang mendewasakanku Aku beruntung kala itu YA? Berkatmu, akua ada dititik ini… Gembira atas takdir yang Tuhan izinkan untukku.. Meraih hal yang tak aku bayangkan sebelumnya…   Mari mengganggap, Bahwa pertengkaran kita yang lalu adalah sebuah jalan Dan takdir adalah milik kita terpisah..   Hai, Baimana kabarmu. Hanya sebuah pertanyaan dengan tanda titik.  Selasa, 15 Desember 2020    

Khong Guan di Sudut Ruang~

Khong Guan Termenung dan duduk sendiri Khong Guan peristiwa yang telah terjadi Meratapi seorang ibu tersenyum Bersama kedua putra putri Memberikan secangkir entah teh atau kopi Dan menikmati kue yang telah dihidangi Mereka semua berpakaian rapi Tak tampak seorang ayah menemani Hal sederhana yang mungkin bisa dipelajari Bahwa hidup tak mesti harus dilengkapi Kadang... Kita memang harus berjuang sendiri Mengikhlaskan segala sesuatu yang terjadi dalam hidup ini.. Menikmati bersama orang-orang sekitar saat ini.. Mau tak mau Suka tidak suka Roda waktu kehidupan tetap berjalan sampai semilyar detik lagi, mungkin.. Sayatan luka yang ada dalam hatimu kini Jangan kau siasati sendiri.. Biarlah ia sembuh dan menyembuhkan sendiri Akan ada hari, di mana engkau akan seperti ibu khong guan tadi.. Menerima takdir dan ilahi.. Widya Ayu~ 2020, June...

23.12 (masih tentang Hujan)

                                        23.12 Bagaimana kabarmu hari ini ? Semesta sedang mengajakku merindu... Membiarkan euforia yang telah lalu memilu.. Di sini sedang merintik seperti tanda titik... Tidak ada jeda, apalagi kita...? Tidak ada lagi cerita... Pun rasa... Jangan, Ah! Rintiknya semakin banyak, bersama kawan-kawannya... Aku hentikan, jangan? Malam ini aku kalah dengan 23.12 Pun kamu~ Jangan merindu~                                                                            ~wa

Mari bercerita~

Cerita Aku tidak ingin bertanya... Silakan Tuan bercerita, Jika tak ada sepatah kata, Tak mengapa , Tuan... Biar aku saja~ Hari ini ketika mata ingin terlelap, Rintikan hujan saling membalap... Entahlah, ambisi ingin mengingatmu Selalu saja terlihat hebat... Kau hebat dalam segalanya, Tuan.. Merontak di pikiran dan sanubariku.. Tenggelam dalam alunan rintik hujan... dan diam-diam.... hanyut dalam imajinasiku.. Tuan, jika Nona boleh mengingin... Sudikah Tuan melangkah lebih banyak lagi? Biar kita berjarak.. Biar kita berjeda... Antara jarak dan rasa~ wa~9.32