Menemukan
saya berkenalan dengan seorang laki-laki yang berbeda kota dengan saya. Saya pikir ini hanyalah kebetulan saja, tidak akan berlanjut ke arah yg lebih jauh lagi.
Perkenalan singkat tanpa perantara orang lain kami lakukan melalui sosial media. Berawal dari pesan singkat dari seorang lelaki yang masih berstatus mahasiswa pada saat itu membuat saya bahkan tidak tertarik untuk membalasnya. Namun, sosial media tetaplah sosial media "keisengan" melanda disaat waktu senggang ada untuk membalas.
Seiring berjalannya waktu, ajakan pertemuan yg diinginkannya tidak saya lakukan. Ya, saya pikir buat apa ada pertemuan, toh kita hanya sama-sama tidak serius membalas pesan demi pesan. Saya masih tidak percaya dengan sikap manis laki-laki di awal perkenalan.
Pada akhirnya kami bertemu tanpa direncanakan. Saya yg sedang berada di sebuah taman pada saat itu, duduk sendirian memikirkan hal-hal yg tertimpa kepada saya hari demi hari sambil menatap taman dengan air mancur kudanya tiba-tiba ada chat dari nya menanyakan keadaan saya dan posisi saya saat itu. Kami bertemu tanpa adanya persiapan penampilan. Sungguh saya masih ingat mengenai momen pada saat itu. Saya tidak ada sedikitpun keinginan untuk bertemu dan saling berbalas pesan menghabiskan beberapa waktu berbagi cerita
Saya pikir itu adalah pertemuan terakhir yg akan saya lakukan. Saya merasa sudah cukup dewasa untuk tidak memulai hal yg saya pikir tidak akan berlanjut. Saya masih sedikit hancur dengan orang di masa lalu saya. Membuat hati saya sangat sakit pada saat itu (tidak akan saya ceritakan panjang karena tidak baik untuk diingat)
Dari berbalas pesan melalui sosial media kami berlanjut pada pesan pribadi setelah beberapa bulan perkenalan berlangsung
Part II
Beralih ke pesan pribadi pun tidak begitu intens percakapan yg kami lakukan. Kadang saya tidak membalas pesan terakhirnya kadang pula ia tak membalas pesan terakhir yg saya kirim. Tidak masalah, bagi saya itu bukan masalah yg besar karena kami tidak memiliki ikatan apapun.
Di sela percakapan melalui pesan yg kami lakukan ada beberapa yg menurut saya ia adalah lelaki penyayang mungkin karena ia adalah anak pertama. Atau mungkin juga karena didikan orang tuanya yg membentuk sikapnya menjadi seperti itu. Saya percaya apapun yg dilakukan dengan tulus untuk orang lain maka akan pula dirasakan oleh orang tersebut dan saya turut merasakannya.
Selang beberapa bulan perkenalan menurut saya ia adalah laki-laki dengan penuh kasih sayang yang banyak bukan untuk saya saja yaa, dengan keluarga dan kerabat bahkan orang terkasih yg sudah tiada.
Ia bukan laki-laki yg punya seribu pengetahuan tapi saya tahu ia adalah laki-laki yg punya seribu rasa cinta untuk orang terdekatnya. Ah dia juga bukan laki-laki yg mempunyai harta yg berlimpah tapi saya tahu ia adalah laki-laki jika memiliki uang tak akan menghitung berapa yg akan ia berikan kepada orang-orang terdekatnya. Mungkin ini sederhana bagi sebagian orang, tapi menurut saya bertemu dengan laki-laki apa adanya, tidak banyak bual, penyayang dan tidak kasar adalah suatu keberuntungan.
Part III
Membicarakan orang yg dikagumi memanglah tidak ada habisnya. Wajar saja kata demi kata yg diucapkan tentu terlihat manis.
Namun kadang semuanya tidak sempurna bukan? tentu saja mungkin ada beberapa hal yg tidak sejalan dengan apa yg ada dalam pikiran sehingga membuat saya dan dirinya sedikit beradu argumen. Tidak masalah bagi saya jika berselisih paham.
Lagi pula saya merasa memang banyak perbedaan antara kami berdua. Dari segi pemikiran, saling keterbukaan dan penyelesaian masalah. Dulu, saya pikir untuk menjadi "satu" dalam hubungan adalah banyaknya kesamaan satu sama lain. Setelah saya menjalani "hubungan yang lalu" ternyata terlalu banyak kesamaan akan membuat kita egois merasa paling benar dalam berucap dan mengambil suatu keputusan. Ibaratkan api dan api tidak akan pernah padam.
Tidak, saya tidak membandingkan seseorang dari masa lalu dengan seseorang yg kini bersama saya. Setiap orang berhak belajar dari yg telah usai bukan?
Melihat ketulusan orang yg menyayangi benar dari hati memang akan terasa sampai ke hati. Setiap bertemu dengannya rasanya energi saya bertambah. Ketulusannya dalam menyayangi dapat saya rasakan dari perlakuannya terhadap saya. Jika saya egois mengedepankan emosi pada diri saya, ia akan berusaha menenangkan tanpa ikut menjadi api. Tak pernah sedikitpun ia kembali kesal kepada saya. permintaan maaf nya terkadang malah membuat saya merasa bersalah karena terkesan ingin menang sendiri
saya menyadari ia tidak selalu berucap menyayangi saya tapi saya tahu ia selalu ingin menjadi orang yg lebih baik untuk saya.
Saya pun tau ia bekerja keras demi kami menjadi "kita" suatu saat nanti.
saya pun tahu ada banyak angan dan harapannya untuk menjadi "kita" namun tidak ia ucapkan kepada saya.
saya pun tahu ada banyak pengorbanan dalam bekerja untuk dapat terus...
Part IV, mau lanjut?
Komentar
Posting Komentar